Senin, 15 Desember 2014

ANEKA MACAM HADROH


Sebuah lantunan qasidah shalawat akan lebih enak di dengar bila mana di dalamnya di iringi dengan ketukan rebana hadrah yang rancak di padukan dengan selingan pukulan alat musik seperti bass,keprak,marawis,tam, maupun gendang sehingga menghasilkan instrumen yang merdu.

Adalah selingan pukulan bass yang paling banyak di pakai sebagai pengiring dari pukulan Rebana atau Terbang yang dalam hal ini sebagai alat musik utamanya, jenis instrument inilah yang paling banyak di pakai group hadrah maupun majelis sholawat dalam mengiringi qasidah mereka, akan tetapi ada juga yang hanya menggunakan Rebana atau Terbang banjari sebagai alat music pokoknya, dan ada juga pula yang menambahkan dengan berbagai jenis alat music sehingga menghasilkan irama yang ramai.

SENTRA REBANA JEPARA menawarkan berbagai alat musik pengiring Rebana Hadrah dengan berbagai ukuran seperti : Bass kulit,Bass Gendong,Bass mangkok,Bass kulit,Bass tangan/Bass banjari,Bass stel, Bass stick,Bass mika,Bass segi delapan,Dumbuk batu,Dumbuk pinggang,Tam,Keprak,dan Marawis.
Produksi kami semua asli dari Jepara, dengan kualitas barang bagus dan tentunya di produksi dari tangan pengrajin yang sudah puluhan tahun ahli dalam bidangnya.
Untuk info atau pemesanan :

SMS/WA          :  08563581146

PIN BB             :  7F866403

Rabu, 03 Desember 2014

SEJARAH REBANA

SEJARAH REBANA
Rebana lebih sering kita jumpai sebagai salah satu alat musik pengiring alunan syair-syair shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Alat musik ini  umumnya terbuat dari kulit kambing dengan bahan baku umumnya kayu nangka ini punya sejarah yang amat panjang.
Di abad ke-6, masyarakat Anshor Madinah menggunakan rebana sebagai musik pengiring penyambutan kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW yang hijrah dari kota Makkah. Yang pada waktu itu mereka menyambut dengan qasidah “Thaala’al Badru” yang sampai saat ini juga sering di pakai jika penyambutan terhadap seseorang.
Di dalam konteks dakwah, rebana di gunakan alat dakwah ampuh melalui bidang kesenian oleh ulama’ penyebar islam terdahulu untuk merangkul masyarakaat Indonesia yang kebanyakan menyukai kesenian musik, di mana di dalam kesenian rebana tersebut berisi syair-syair memuji Rasulullah SAW dan nasehat/pesan agama,
sekitar abad 13 Hijriah, seorang ulama besar dari Hadhramaut Yaman, beliau datang ke Indonesia dalam misi berdakwah menyebarkan agama Islam. Dalam dakwahnya beliau membawa semacam kesenian dari arab berupa qasidah yang juga di iringi alat musik rebana. Beliau yang juga pengarang kitab mauild “Shimthud Duror” yang berisi kisah perjalanan Rasulullah SAW yang sering kita baca selama ini. Sampai akhirnya majelis sholawat beliau berkembang di kalangan masyarakat sekitar.
Dengan berjalanya waktu, majelis tersebut berkembang hingga ke seluruh Kalimantan,sumatra dan jawa, bahkan hampir di seluruh wilayah di Indonesia ini terdapat majelis Sholawat yang pada pembacaan qasidah biasanya di iringi dengan rebana
Di kota besar hingga desa pelosok tidak sulit rasanya untuk menemukan tradisi kesenian yang juga peninggalan “‘Wali Songo” ini, Sampai saat ini kesenian rebana telah akrab dengan masyarakat pecinta Shalawat dan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan bahkan menjadi alat music yang tidak pernah di tinggalkan dalam pengiringan pembacaan Sholawat dan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Mengenal sosok KH.ABDUL HADI ZAHID

KH.ABDUL HADI ZAHID
Matarantai kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan terus berlanjut. Pada periode ke empat ini Pondok Pesantren Langitan diasuh oleh putra menantu K.H. Khozin, Hadrotussyekh KH. Abdul Hadi Zahid. Beliau lahir di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1309 H. Sejak berusia sebelas tahun beliau sudah mulai belajar di Pondok Pesantren Langitan hingga usia sembilan belas tahun, dan atas saran KH. Muhammad Khozin beliau melanjutkan studi di Pesantren Kademangan Bangkalan Madura di bawah asuhan KH. Kholil selama tiga tahun. Pada usia 13 tahun, beliau belajar di Pesantren Jamsaren Solo asuhan KH. Idris.
Setelah itu beliau kembali lagi nyatri di Pondok Pesantren Langitan hingga pada usia 25 tahun, dan diambil menantu oleh KH. Muhammad Khozin, dijodohkan dengan Ning Juwairiyah.
Pada usia yang relatif muda, 30 tahun beliau sudah menerima tugas berat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Langitan. Namun meskipun begitu, di bawah asuhannya Pondok Pesantren Langitan saat itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Terbukti mulai periode ini (tahun 1949 M) mulai dikembangkan sistem pEngajaran ilasikal yang dahulu belum dikenal, dengan cara mendirikan madrasah ibtida’iyah dan madrasah mu’allimin serta kegiatan ekstra kurikuler seperti bahsul masa’il lil waqi’ah, jam’iyatul muballighin, jam’iyatul qurro’ wal khuffadz dan lain-lain. Di samping itu kegiatan rutinitas berupa pengajian kitab baik sistem sorogan maupun weton terus dilestarikan dan kembangkan, terlebih sholat berjamaah, karena beliau adalah seorang ulama yang bertipikal sangat disiplin waktu dan terkenal k%istiqomahannya.
Waktu pun terus bergulir, bergerak menuju suratan taqdir. Mendung duka menyelimuti atmosfir Pondok Pesantren Langitan. Air mata qebagai kesaksian atas cinta kepada sang guru besar jatuh menetes tak tertahankan. Hari itu, 9 Shofar 1391 H. atau bertepatan dengan tanggal 5 April 1971 M. kiai panutan umat, pengemban amanat, telah kembali ke haribaan ilahi Rabbi setelah mengasuh Pondok Pesantren Langitan dalam masa yang cukup lama, 50 tahun (1921-1971 M.). Ribuan umat kehilangan tongkat, orang bijak kehilangan hikmat. Nadimu adalah perjuangan, nafasmu adalah keihlasan dan santri-santrimu akan siap bertahan mewarnai kehidupan dengan tuntunan keteladanan yang telah diajarkan.